Minggu, 25 Januari 2015

Penitipan anak di Tegal

LOKASI & CONTACT

SHAZANA Kids
Alhamdulillah Telah di buka Penitipan dan pengembangan Diri anak Shazana Kids Di Kota Tegal.

Ada pun lokasinya :
Jl. Cempaka no 20 Kejambon Kota Tegal.
PJ: Bunda Aida

Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual.
Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.

Beberapa Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini :

1. Aspek Perkembangan Kognitif
Tahapan Perkembangan Kognitif sesuai dengan teori Piaget adalah: (1) Tahap sensorimotor, usia 0 – 2 tahun. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahas awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja; (2) Tahap pra-operasional, usia 2 – 7 tahun. Masa ini kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas; (3) Tahap konkret operasional, 7 – 11 tahun.
Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi; (4) Tahap formal operasional, usia 11 – 15 tahun. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, mampu berfikir abstrak.

2.Aspek Perkembangan Fisik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik anak usia 4-5 tahun lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru.terjadi perkembangan motorik halus.
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya (Santrock,1995: 225)

 3. Aspek Perkembangan Bahasa
Hart & Risley (Morrow, 1993) mengatakan umur 2 tahun, anak-anak memproduksi rata-rata dari 338 ucapan yang dapat dimengerti dalam setiap jam, cakupan lebih luas adalah antara rentangan 42 sampai 672. 2 tahun lebih tua anak-anak dapat mengunakan kira-kira 134 kata-kata pada jam yang berbeda, dengan rentangan 18 untuk 286.
Membaca dan menulis merupakan bagian dari belajar bahasa. Untuk bisa membaca dan menulis, anak perlu mengenal beberapa kata dan beranjak memahami kalimat. Dengan membaca anak juga semakin banyak menambah kosakata. Anak dapat belajar bahasa melalaui membaca buku cerita dengan nyaring. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan anak tentang bunyi bahasa.

 4.Aspek Perkembangan Sosio-Emosional
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.

Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak: (1) Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenamgkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga; (2) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya.

Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu; (3) Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.

Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan ber interaksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah; (4) Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – pubertas.
Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.


Sumber Phisikologi.com

Memberikan Pendidikan Yang Terbaik

Dalam hal pendidikan tentunya orang tua tidak hanya ingin memastikan bahwa anak-anak pergi ke sekolah terbaik tetapi juga memastikan bahwa pendidikan yang mereka jalani akan menyediakan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk masa depan.

Beberapa hal berikut ini akan membantu anda selaku orang tua agar dapat memberikan pendidikan terbaik bagi buah hati dan memaksimalkan seluruh potensi nya untuk membantunya meraih keberhasilan di masa yang akan datang.

Pertama, anda harus bisa memahami terlebih dahulu mengenai kemampuan buah hati anda. Sebagai orang tua, anda perlu memahami kemampuan mereka sebelum Anda mulai mengajari mereka sesuatu yang baru. Setiap anak memiliki kebutuhan, kemampuan dan kekuatan yang berbeda. Sangat penting untuk memahami anak Anda sendiri dan tidak membandingkannya dengan anak-anak yang lain. Beberapa anak mungkin memiliki kecepatan belajar yang lebih lambat dibandingkan dengan yang lain. Luangkan waktu bersama anak Anda untuk memahami dirinya dan keterampilannya. Anda harus bisa memahami buah hati anda terlebih dahulu jika ingin sang buah hatimau dan mampu belajar dengan baik.

Kedua, pastikan bahwa lingkungan tempat si kecil belajar merupakan lingkungan belajar yang baik. Lingkungan sangat mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk belajar. Anak membutuhkan lingkungan yang memungkinkan dia untuk berkonsentrasi. Pada masa usia dini, antara bermain dan belajar harus bisa seiring sejalan.

Selanjutnya, pastikan bahwa buah hati anda dalam keadaan nyaman. Selama rentang waktu usia dini, jangan dibiasakan untuk memarahi anak-anak saat mereka membuat kesalahan. Biarkan anak-anak belajar dari kesalahan mereka. Ini membantu mereka belajar progresif dan memperkuat landasan pendidikan mereka. Cobalah untuk menjaga kepentingan mereka dengan membuat proses belajar menyenangkan. Biarkan mereka bereksplorasi dengan lingkungan sekitarnya dan orang tua bertugas untuk mengawasinya.

Yang keempat, bantu anak dalam usia dini untuk meningkatkan kemampuannya. Membuat mereka belajar untuk mengharapkan lebih dari apa yang mereka bisa. Dorong mereka untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi, tidak perlu sampai terlalu memaksa mereka. Pikirkan kemampuan anak untuk menjadi lebih baik dan kemudian menetapkan batas yang realistis sesuai dengan kemampuan mereka.

Hal kelima yang perlu diperhatikan orang tua dalam memberi pendidikan anak usia dini adalah bersabar. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini masih terus berjalan. Dan sebagai orang tua andaharus memberi mereka waktu. Anda harus konsisten, mengajari mereka terus menerus untuk memastikan bahwa mereka belajar sesuatu. Membangun ikatan positif dengan anak Anda sehingga dia merasa nyaman belajar dengan Anda.

Usia dini merupakan masa perkembangan karakter mental, fisik dan spiritual anak mulai terbentuk. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan menyerap (terutama) dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya.

Pendidikan yang ideal dan baik semestinya dilakukan sejak anak lahir sampai remaja. Dan Pendidikan usia dini merupakan salah satu usaha yang bisa diberikan oleh orang tua dalam rangka memberikan pendidikan yang ideal bagi sang buah hati. Yang perlu diperhatikan yaitu beri kebebasan pada sang buah hati untuk belajar apa saja dan orang tua bertugas untuk mengarahkan dan menggali semua potensi pada anak usia dini sehingga nantinya potensi mereka dapat berkembang secara maksimal. Itulah beberapa hal yang harus orang tua perhatikan dalam memberikan pendidikan anak usia dini.

Mengenal karakter perkembangan pada anak usia dini

Perkembangan anak  tentunya akan sangat bergantung pada lingkungan terdekat dari sang anak, tak terkecuali lingkungan keluarga. Maka hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah memahami dan mengenal karakter perkembangan pada anak usia dini, beberapa diantaranya yaitu:

Rasa ingin tahu besar.
Pada anak-anak usia dini, umumnya mempunyai rasa keingintahuan yang besar tentang hal-hal yang ada sekitarnya. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan antusias terhadap berbagai hal, terutama mengenai hal-hal yang baru Pada masa balita rasa ingin tahunya ditunjukkan dengan meraih benda-benda kecil yang ada pada jangkauannya kemudian dimasukkan ke mulutnya. Pada tahap ini balita mulai mengeksplorasi bagian tubuhnya dan mengenali anggota tubuh. Kemudian saat usia 3-4 tahun anak-anak senang bermain bongkar pasang segala sesuatu untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Anak-anak juga mulai gemar untuk menanyakan semua hal meski masih menggunakan bahasa yang sangat sederhana.

Spontan.
Perilaku dan sikap yang dicerminkan anak itu pada umumnya adalah sikap asli mereka tanpa di rekayasa. Sehingga, sering kita jumpai anak-anak berbicara ceplas-ceplos dan merefleksikan apapun yang ada dalam hati dan pikiran mereka. Dalam melakukan suatu hal, anak-anak melakukannya secara spontan tanpa mempertimbangkan apakah sesuatu itu berbahaya atau tidak bagi dirinya maupun bagi orang lain. Misalnya saat bermain dengan benda-benda tajam, mereka cenderung tidak mau mendengarkan perkataan orang tuanya jika benda yang dimainkannya itu berbahaya. Karenanya anak-anak pada rentang usia dini perlu perhatian dan pengawasan khusus.

Aktif
Anak usia dini lazimnya senang sekali melakukan berbagai aktifitas. Si kecil seolah-olah tidak pernah lelah, tidak pernah merasa bosan, dan tidak pernah berhenti beraktifitas. Mereka selalu ingin tahu, selalu bergerak kesana kemari. Mereka sangat bersemangat untuk mengetahui semua hal di sekitatr mereka. Dan baru berhenti beraktifitas ketika sudah merasa lelah dan akhirnya tertidur.

Karakter yang unik.
Tentunya, karakter yang dimiliki oleh anak berbeda-beda dan mempunyai ciri khas masing-masing. Meskipun mereka mempunyai banyak kesamaan dalam pola umum perkembangan anak usia dini, akan tetapi setiap anak mempunyai kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan sebagainya. Keunikan ini bisa berasal dari faktor genetis dan juga lingkungan. Untuk itu orang tua perlu menerapkan pendekatan individual dan personal dalam memahami buah hatinya yang berada dalam kategori anak usia dini.

Senang berimajinasi.
Fantasi merupakan kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Sedangkan imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan obyek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata. Anak usia dini sangat suka membayangkan dan mengembangkan berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata. Biasanya, mereka suka terhadap hal-hal yang imajinatif, bahkan terkadang mereka dapat menciptakan adanya teman imajiner. Teman imajiner itu bisa berupa orang, benda, atau pun hewan. Atau juga hal-hal lain yang tidak terpikirkan oleh orang dewasa.

Masa potensial untuk belajar

Masa perkembangan pada anak usia dini sering juga disebut sebagai “golden age” atau usia emas. Karena pada rentang usia itu anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat di berbagai aspek. Orang tua perlu memberikan berbagai stimulasi dan arahan yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja. Orang tua dapat mengisi masa-masa usia emas ini dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Perlu disadari juga oleh orang tua bahwa pada masa tersebut anak-anak senang mempelajari suatu hal, mereka akan bersemangat untuk terus menekuninya dan mereka senang pula melakukan berbagai aktifitas yang membuat sesuatu yang baru dalam dirinya. Misalkan, jika mereka belajar mewarnai dan bernyanyi. Maka mereka akan melakukan hal tersebut berulang-ulang karena merasakan ada perubahan dalam dirinya dari tidak bisa menjadi bisa. Dengan diiringi rasa ingin tahu yang kuat, anak lazimnya senang sekali menjelajah, bermain kesana kemari, mencoret-coret dinding, dan aktifitas eksplorasi lainnya.

Menunjukkan sikap egosentris
Pada usia ini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Mereka cenderung memahami dan memperhatikan suatu hal hanya dari sudut pandang kepentingan sendiri saja. Hal itu terlhat dari perilaku anak yang masih suka berebut mainan, menangis atau merengek sampai keinginannya terpenuhi.

Dengan mengetahui karakter perkembangan anak usia dini, terkadang banyak orang tua yang merasa kesulitan untuk memperhatikan dan fokus pada pendidikan anak-anaknya. Akan tetapi orang tua haruslah bersedia untuk berkorban demi kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya.

Shazana KIds Rumah kedua Buah Hati anda

Memahami Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini memang suatu hal yang kadang dianggap remeh oleh sebagian orang tua. Padahal pendidikan anak usia dini sebenarnya memegang peranan penting untuk masa depan anak kelak. Pada masa usia dini, otak anak-anak berkembang sangat pesat hingga mencapai 80 persen. Pada rentang usia tersebut otak anak akan menerima dan menyerap berbagai macam informasi dari lingkungan sekitarnya, tanpa mengetahui baik dan buruk. Pada rentang waktu usia dini itulah terjadi perkembangan mental, fisik maupun spiritual pada anak secara cepat dan signifikan. Anak akan mulai mempelajarisegala hal dan karakternya sudah mulai terbentuk. Oleh sebab itu, banyak orang yang menyebut masa perkembangan anak saat usia dini sebagai golden age (masa emas anak).

Sebuah penelitian telah dilakukan di Amerika oleh Brazelton yang merupakan seorang ahli perilaku dan perkembangan anak, mengatakan bahwa pengalaman yang terjadi pada anak di bulan dan tahun pertama dalam kehidupannya akan sangat berpengaruh dan akan menunjukan apakah sang anak akan mampu menghadapi rintangan dan tantangan dalam kehidupannya kelak dan apakah ia mempunyai semangat tinggi untuk berhasil dalam kehidupannya.

oleh sebab itu, sebagai orang tua hendaknya mempergunakan masa-masa emas anak ini untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak. Sehingga nantinya sang anak bisa meraih cita-cita dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa depan.

Shazana Kids - Rumah kedua Buah Hati anda

Sabtu, 24 Januari 2015

Golden age atau masa keemasan

Apa itu golden age (masa keemasan) ?
Golden Age atau masa keemasan, adalah “masa-masa penting anak yang tidak bisa diulang”. Beberapa pakar menyebutkan sedikit perbedaan tentang rentang waktu masagolde age, yaitu 0-2 th, 0-3 th, 0-5 th atau 0-8 th, namun semuanya sepakat bahwa awal-awal tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa emas mereka.Pada masa-masa ini, kemampuan otak anak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berdampak bagi si anak di kemudian hari.

Di masa-masa inilah, peran orang tua dituntut untuk bisa mendidik dan mengoptimalkan kecerdasan anak baik secara intelektual, emosional dan spriritual.

Usia tersebut merupakan waktu yang ideal bagi anak untuk mempelajari berbagai macam keterampilan, membentuk kebiasaan-kebiasaan yang akan berpengaruh pada masa-masa kehidupan selanjutnya, dan memperoleh konsep-konsep dasar untuk memahami diri dan lingkungan sekitar.


Agar masa keemasan ini termanfaatkan secara optimal, maka orangtua diharapkan dapat melakukan proses pengasuhan dan pendidikan dengan cara yang optimal pula. Selain kemampuan dan pengetahuan, orangtua juga memerlukan media pendukung untuk membantu proses tersebut.

Berikut ini adalah tips dalam memberikan stimulasi/rangsangan anak pada masa golden age guna mengoptimalkan kecerdasan mereka:

1. Stimulasi yang Anda berikan bisa berupa pengalaman di alam terbuka. 

Untuk anak-anak pengamatan mereka akan alam sangat detil. Anak-anak biasanya akan belajar banyak dengan hanya mengamati. Orang tua bisa bercerita tetang alam dan binatang. Jawablah pertanyaan anak dengan bahasa mereka yang sederhana. Dan lebih banyak ajukan pertanyaan untuk menggugah rasa ingin tahu anak.

2. Anak juga belajar dengan mengamati dan meniru Anda.
 Maka sebagai orang tua Anda bisa menstimulasi mereka dengan menjadi teladan anak. Kalau Anda senang membaca, kemungkinan besar anak pun akan demikian.

3. Jangan berikan target, tetapi hargailah anak atas usahanya. 
Kalau anak diberi standar-standar harus bisa membaca pada usia sekian, anak harus pandai membaca, maka anak akan mati-matian menyenangkan orang tuanya walaupun hati mereka tidak bahagia.

4. Pujilah mereka atas usahanya. 
Berikan mereka penghargaan atas usaha yang telah mereka berikan dengan hal yang bermanfaat, misalnya dengan mengajak mereka jalan-jalan ke toko buku, taman pintar, water boom dan lain-lain.

5. Berikan mainan yang bermanfaat bagi perkembangan keterampilan anak seusia mereka. 
Berilah mereka kasih sayang dan rasa aman sehingga mereka pun akan sanggup memberi kasih sayang pada sesamanya. Di masa golden age, jika peran orang tua membahagiakan dalam kehidupan mereka, memori ini akan terkenang selamanya dan membawa pengaruh positif di kehidupan dewasa mereka kelak.

–Dr. Juke R. Siregar, M.Pd.–
(dalam Halo Balita-Panduan untuk Ayah dan Ibu)
Referensi :http://tipsanda.com/2009/02/07/tips-memberi-stimulasi-anak-di-masa-golden-age/